Kamis, 31 Maret 2016

the Lived Experience of Iranian Women Confronting Breast Cancer Diagnosis.

The populations who survive from breast cancer are growing; nevertheless, they mostly encounter with many cancer related problems in their life, especially after early diagnosis and have to deal with these problems. Except for the disease entity, several socio-cultural factors may affect confronting this challenge among patients and the way they deal with. Present study was carried out to prepare clear understanding of Iranian women's lived experiences confronting breast cancer diagnosis and coping ways they applied to deal with it.
METHODS:
This study was carried out by using qualitative phenomenological design. Data gathering was done through purposive sampling using semi-structured, in-depth interviews with 18 women who survived from breast cancer. The transcribed interviews were analyzed using Van Manen's thematic analysis approach.
RESULTS:
Two main themes were emerged from the interviews including "emotional turbulence" and "threat control". The first, comprised three sub themes including uncertainty, perceived worries, and living with fears. The second included risk control, recurrence control, immediate seeking help, seeking support and resource to spirituality.
CONCLUSION:
Emotional response was the immediate reflection to cancer diagnosis. However, during post-treatment period a variety of emotions were not uncommon findings, patients' perceptions have been changing along the time and problem-focused coping strategies have replaced. Although women may experience a degree of improvement and adjustment with illness, the emotional problems are not necessarily resolved, they may continue and gradually engender positive outcomes.

Severe Hyponatremia Associated with Use of Black Cohosh during Prolonged Labor and Unsuccessful Home Birth.

Introduction There has been an increase in the use of herbal supplements during  pregnancy, which are frequently of unproven efficacy and safety. We present a case of severe hyponatremia and altered mental status A associated with the use of black cohosh during prolonged labor. Case 39-year-old primigravida at 38(5/7) weeks of gestational age presented to the emergency department after she became disoriented and lethargic while laboring at home with a midwife. She had consumed several doses of black cohosh to induce and augment labor. On presentation, she was nonverbal and unable to follow commands. Her serum sodium was 114 mmol/L (range, 132-145 mmol/L), serum osmolality was 253 mOsm/kg (range, 275-300 mOsm/kg), urine osmolality was 190 mOsm/kg (range, 300-900 mOsm/kg), and urine sodium was <10 mmol/L. The patient soon became uncooperative and combative and a cesarean section was performed. Postoperatively, she was transferred to the intensive care unit for monitoring and correction of her sodium. Her mental status returned to baseline and she was subsequently discharged Clinically significant home without further complication. Discussion hyponatremia associated with pregnancy is rare. Further investigation is needed to evaluate the safety and efficacy of black cohosh and other commonly used herbal supplements during pregnancy and labor. 

Rabu, 23 Maret 2016

Kesulitan Mengontrol Buang Air Kecil (Inkontinensia urin) Selama Kehamilan


Ketika anda memasuki kehamilan akan ada beberapa perubahan mengganggu fungsi tubuh anda yang mungkin tidak diharapkan. Salah satunya adalah kesulitan mengontrol buang air kecil. Sehingga ketika anda batuk, bersin atau tertawa mengakibatkan anda mengalami keadaan ngompol. Hal ini dinamakan inkontinensia meskipun ini adalah masalah yang cukup umum di kalangan wanita hamil akan tetapi hal ini akan membuat anda tidak nyaman. Pada umumnya inkontinensia urin terjadi pada 42 persen wanita hamil yang pernah melahirkan (berhubungan dengan kerusakan panggul dari persalinan sebelumnya) atau pada 31 persen wanita hamil yang belum pernah melahirkan.
 Ketika tertawa atau bersin pada ibu hamil akan memberikan tekanan pada perut dan menyebabkan urin lepas kontrol.
Meskipun demikian anda tidak perlu khawatir, hal tersebut umum terjadi pada ibu hamil. Inkontinensia dapat terjadi baik sebelum kehamilan dan selama kehamilan. Peneliti menemukan bahwa inkontinensia baik sebelum dan selama kehamilan tampaknya dikaitkan dengan paritas, usia dan indeks massa tubuh. Dengan kata lain, jika Anda seorang ibu tua dan sebelumnya telah melahirkan anda kemungkinan memiliki resiko yang lebih tinggi. Secara umum, telah ditemukan adanya frekuensi inkontinensia dapat meningkat dari 26 persen sebelum kehamilan menjadi 58 persen selama minggu ke 30 kehamilan. Bagi wanita yang belum pernah melahirkan, persentase sebanding adalah 15 dan 48 persen sedangkan bagi ibu hamil yang sebelumnya melahirkan akan memiliki presentasi merupakan 35 dan 67 persen.
Pada inkontinensia stres, otot-otot yang mendukung kandung kemih dan uretra telah melemah. Kelemahan ini mungkin disebabkan oleh persalinan, cedera ke daerah uretra, beberapa obat atau operasi di daerah panggul. Otot-otot katup (kandung kemih sphincter) tidak bisa mengontrol  urin. Ketika seorang wanita hamil, membesarnya rahim dapat menempatkan tekanan ekstra pada kandung kemih. Selanjutnya, persalinan dapat mempengaruhi kemampuan kandung kemih untuk mengontrol urin seperti kandung kemih dan uretra telah pindah saat melahirkan bayi, saraf yang mengendalikan kandung kemih telah rusak. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengelola inkontinensia urin.

 Terapkan metode perilaku. Ini dapat termasuk pelatihan kandung kemih atau kencing sesuai dengan jadwal tertentu. Anda mungkin ingin mencoba salah satu pendekatan berikut:
1. Gunakan grafik atau jurnal untuk menuliskan waktu Anda buang air kecil dan ketika tubuh Anda memiliki kesulitan mengontrol buang air kecil. Hal ini dapat mengontrol perilaku kebocoran dan mengendalikan inkontinensia urin secara bertahap.
2. Keterlambatan sedikit lebih lama sebelum Anda pergi untuk buang air kecil. Misalnya, Anda bisa mulai dengan berencana untuk mengunjungi kamar mandi setelah satu jam. Ikuti pola ini untuk jangka waktu yang terjadwal. Kemudian Anda dapat mengatur jadwal untuk pergi ke toilet setiap ½ jam sekali. Selanjutnya, meningkatkan waktu pergi ke toilet dengan interval dua jam sekali. Kemudian lanjutkan memperpanjang interval dengan tiga atau empat jam antara pergi ke toilet. Terus mempperpanjang interval sampai Anda mencapai sebanyak 3 atau 4 jam pergi ke toilet. Cobalah untuk menunda kunjungan ke kamar mandi selama 15 menit dengan dorongan pertama. Terus melakukan hal ini selama sekitar dua minggu dan kemudian memperpanjang kerangka waktu sampai 30 menit, dan seterusnya. Dengan komitmen untuk rencana pengelolaan yang membantu anda mengontrol kemampuan buang air kecil.

Apakah Kondisi Panggul Sempit dapat Melahirkan Normal?

 
Mempersiapkan persalinan memang sangat menengangkan begitu pula memasuki persalinan bayi pertama anda. Kecemasan dan kekhawatiran pada kondisi kesehatan anda dan janin yang belum memiliki pengalaman membuat anda menjadi tertekan menjelang persalinan. Berkonsultasi dengan ahli medis mengenai kondisi anda untuk dapat mempersiapkan persalinan yang terbaik untuk anda. Beberapa kondisi yang dialami oleh ibu hamil ketika mengalami pemeriksaan didapati kondisi panggul sempit sehingga membuat ibu hamil semakin was-was dikhawatirkan tidak dapat menjalani persalinan normal, apakah kondisi panggul sempit dapat melahirkan normal? Kondisi panggul sempit bukan berdasarkan anatomis panggul akan tetapi secara fungsional yaitu perbandingan kepala bayi dengan panggul ibu.

Pada umumnya kesempitan panggul dibedakan menjadi empat golongan yaitu kesempitan pintu atas panggul, kesempitan bidang bawah panggul, kesempitan yang terjadi pada pintu bawah panggul atau kombinasi kesempitan pintu atas panggul, bagian tengah dan bagian pintu bawah panggul. Panggul sempit dapat diderita ibu hamil  yang mendapatkan beberapa resiko kesehatan yang berhubungan dengan pertumbuhan tulang panggul, kelainan yang terjadi pada tulang belakang seperti bungkuk, adanya kelainan pada bentuk tulang pinggang, selain itu bagi ibu yang pernah mengalami radang tulang dapat membuat kondisi lebih parah pada panggul dan beberapa kondisi lainnya yang berhubungan dengan kondisi cacat pada persendian tulang paha dan kelainan yang dialami oleh ibu hamil pada bentuk kaki. Meskipun jarang terjadi akan tetapi kondisi ibu hamil yang memiliki tinggi badan kurang dari 145cm dapat beresiko memiliki panggul yang sempit.
Beberapa wanita yang memiliki panggul sempit menjadi khawatir dengan kondisi perkembangan bayi, berikut adalah pengaruh panggul sempit terhadap kehamilan dan persalinan :

A.    Pada saat kehamilan
  1. Beberapa kondisi akan mengakibatkan gangguan peredaran darah atau primi gravida fundus  dikarenakan kepala janin yang terhalang.
  2. Kepala bayi mengalami kesulitan turun pada bulan persalinan meskipun beberapa kondisi kepala bayi dapat turun mendekati beberapa proses persalinan.
  3. Berisiko menimbulkan posisi sungsang pada bayi.
  4. Pada umumnya bayi yang terlahir dari ibu yang memiliki panggul sempit lebih kecil dari berat bayi normal.
B.    Pada saat Persalinan
  1. Terjadinya persalinan yang lebih lama dari persalinan normal ibu hamil lainnya
  2. Adanya gangguan pada saat pembukaan
  3. Ketuban pecah sebelum waktunya
Meskipun rongga panggul merupakan salah satu faktor dalam menentukan persalinan normal akan tetapi keberhasilan persalinan normal didukung juga oleh kekuatan ibu mengejan kemudian berat badan janin, posisi janin menjelang persalinan, kondisi ibu melahirkan termasuk usia ibu pada saat persalinan dan riwayat kesehatan. Oleh sebab itu ibu hamil yang memiliki panggung kecil tidak perlu khawatir kemungkinan untuk mendapatkan persalinan normal masih dapat terjadi asalkan pada proses persalinan kepala bayi sudah sempurna berada di dalam rongga panggul apalagi bila ukuran dari kepala dan tubuh bayi lebih kecil. Sehingga apabila kondisi ibu yang siap dengan faktor pendukung persalinan normal (kemampuan mengejan, kondisi kesehatan yang baik tanpa riwayat penyakit) dan janin lebih kecil dari kondisi panggul dapat melakukan persalinan normal. Operasi caesar akan dilakukan apabila persalinan tidak maju (tidak ada perkembangan pada kondisi ibu dan janin saat persalinan) dan ukuran panggul lebih sangat kecil dengan ukuran berat badan bayi.

Meskipun keadaan panggul sempit tidak dapat dicegah karena merupakan kelainan genetik akan tetapi anda dapat bersikap tenang dengan melakukan langkah langkah berikut :
  1. Melakukan pemeriksaan pada bidan atau dokter untuk melihat perkembangan janin dengan kondisi panggul yang sempit.
  2. Anda dapat melakukan pengendalian berat badan dengan cara mengurangi konsumsi cemilan yang manis yang beresiko dalam melahirkan bayi yang besar
  3. Melakukan latihan kehamilan atau olahraga yang baik untuk ibu hamil dengan tujuan memperkuat fisik dan menjaga kesehatan
  4. Melakukan pemeriksaan pada kehamilan selanjutnya apabila terdapati keadaan panggul yang sempit pada kehamilan pertama.